Belajar Dari DREW HOUSTON (Pendiri DropBox)

28 Nov 2014

dropbox

Tidak banyak orang di dunia ini yang bakal menolak tawaran untuk bekerja di perusahaan se-kaliber Apple, terlebih jika yang mengundang / mengajak bekerja sama adalah legenda di dunia teknologi sekaligus pendiri Apple, Steve Jobs. Drew Houston adalah salah satu diantara orang tersebut, ia menolak tawaran dari Steve Jobs untuk mengembangkan usahanya sendiri yang sekarang dikenal orang sebagai Dropbox.

Dropbox adalah sebuah layanan hosting yang menawarkan cloud storage, sinkronisasi file, dan perangkat lunak untuk klien. Dropbox juga memiliki fitur yang memungkinkan pengguna untuk membuat folder khusus di masing-masing komputer mereka, kemudian Dropbox mensinkronisasi tampak seperti folder yang sama (dengan konten yang sama) terlepas komputer manapun yang digunakan user. FIle dan berkas data yang disimpan dalam folde ini dapa dibuka melalui situs web maupun aplikasi Dropbox di smartphone.

Kisah kesuksesan Drew Houston tidak serta merta datang dari langit. Awalnya Drew Houston bekerja di Bit9, sebuah perusahaan computer security di Boston. Selepas bekerja di Bit9, Drew memulai perusahaan startup pertamanya Accolade. Accolade merupakan sebuah layanan untuk persiapan SAT, kalau di Indonesia SAT itu hampir mirip dengan ujian masuk perguruan tinggi. Tak butuh waktu lama bagi Drew untuk gagal di startup pertamanya ini. Alasannya sederhana: marketnya terlalu kecil.

Gagal dengan Accolade tak membuat Drew Houston patah arang. Ia melihat kecenderungan orang untuk menyimpan datanya di internet, dan ia melihat cloud computing merupakan masa depan dari big data. Ia pun lantas mendirikan perusahaan layanan Cloud Storage yang kemudian dikenal sebagai Dropbox bersama Arash Ferdowsi.

Tak seperti Accolade yang dengan cepat gagal, Dropbox menunjukkan potensi untuk menjadi penguasa pasa di bidang cloud storage. Dalam waktu singkat layanan tersebut meraih jutaan pengguna. Kepopuleran Dropbox itu sampai juga di telinga Steve Jobs.

Pada Desember 2009, Steve Jobs mengundang Drew Houston dan Aresh Ferdowsi untuk bertemu di kantornya. Jobs terkesan dengan cara Drew menjalankan Dropbox dan salut atas kecerdasannya mampu menampilan file yang tersimpan di perangkat Apple dengan elegan. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh developer Apple.

Intuisi bisnis Steve Jobs yang tinggi membuat ia yakin Dropbox akan menjadi sebuah perusahaan besar di masa yang akan datang. Jobs menilai mengakuisisi Dropbox merupakan langkah strategis Apple di dunia Cloud Computing.

Namun hal yang mengejutkan harus diterima Jobs. Drew Houston memotong kata-katanya dan berkata ia telah memutuskan untuk membangun sebuah perusahaan besar dan tidak akan menjualnya pada siapapun, tak peduli siapapun dia dan apapun status penawarnya. Saat itu Steve Jobs merupakan idola Drew, dan ia menganggap Jobs sebagai Role Model-nya dalam berwirausaha.

Lalu, Steve Jobs tersenyum hangat pada mereka dan mengatakan bahwa Apple akan memasuki pasar yang sama dengan mereka. Kemudian Steve Jobs bercerita tentang masalah lain seperti kembalinya ia ke Apple, dan tentang asalan tidak boleh mempercayai investor selama kurang lebih setengah jam.

Di akhir pertemuan, Steve Jobs menawarkan untuk mengadakan pertemuan di kantor Dropbox di San Fransisco. Houston berkata lebih baik mereka bertemu di Silicon Valley. Kenapa harus membiarkan musuh kita mencobanya? kata Houston waktu itu. Seterusnya, Jobs tidak pernah mengungkit masalah ini lagi. Beberapa waktu kemudian ia tampil di publik dengan meluncurkan iCloud, layanan cloud storage milik Apple. Jobs berhapar iCloud dapat menyelesaikan masalah terbesar internet: Bagaimana cara menyimpan semua data dari semua perangkat anda dalam satu tempat?

Mendengar Apple meluncurkan iCloud, Houston sangat terkejut. Steve Jobs benar-benar masuk ke dalam pasar yang sama dengan mereka. Ia berkata pada para stafnya: “Kita memiliki musuh yang sangat besar. Salah satu perusahaan paling inovatif dan paling cepat perkembangannya di dunia.” Selanjutnya ia membuat daftar beberapa perusahaan raksasa yang melesat bak meteor karena kegagalan menjaga pasar: MySpace, Yahoo!, Netscape, hingga Palm. Ia ingin menyampaikan pada karyawannya bahwa perusahaan tersebut jatuh karena mereka kurang inovatif, meskipun mereka adalah yang pertama namun bila saingan mereka lebih baik pengguna akan beralih.

Kerja keras dan perjuangan Drew Houston menjaga Dropbox dari kejatuhan sejauh ini sukses. Jumlah pengguna terdaftar di Dropbox mencapai 50 juta, dan mereka mendapatkan pendapatan sebesar $240 juta pada tahun 2011 meskipun 96% pengguna Dropbox tidak membayar apa-apa untuk menyimpan data mereka. Meskipun mereka memiliki pengguna hingga 50 juta, staf yang dimiliki Drew hanya 70 orang. Bandingkan dengan proyek serupa seperti iCloud dan Google Drive yang menyedot ratusan hingga ribuan karyawan.

Kepopuleran Dropbox membuat mereka kini menjadi sebuah kata kerja baru dalam beberapa tahun terakhir. Contoh: “Dropbox aja ke saya” atau “Dropbox me”. Sukses Dropbox semakin meningkatkan pamor Y Combinator, inkubator startup teknologi yang dulu menginkubasi Dropbox.

Banyak perusahaan besar dan venture capital yang ikut berinvestasi ke Dropbox seperti : Sequoia, Greylock, Benchmark, Accel, Goldman Sachs hingga RIT Capital Partners. Kini Drobox ditaksir memiliki nilai sebesar 4 miliar dolar. Houston selaku pendiri memiliki 15% saham yang bila diuangkan bernilai 600 juta dolar. Ia pun kini menjadi salah satu online entrepreneur pendiri startup tersukses di dunia.

Dropbox tidak melenggang sendiri di layanan Cloud Storage. Pesaing utama Dropbox yang siap menerkam mereka dari belakang diantaranya: Box.net, CloudMe, iCloud, Mozy, TitanFile, Windows SkDrive dan Google Drive.

Sumber: Email Dari Kantor

Nahh…

Dari cerita di atas tentang bagaimana Drew mempertahankan apa yang menjadi masa depanya membuat kita terbuka tentang beberapa poin; Pertama, kita harus tetap berinovasi dan selalu mengimprove segala seusuatu yang kita bangun, jadikan kegagalan sebagai pelajaran. Yang kedua, yang paling penting kita harus yakin dengan apa yang sudah kita buat dan bangun lah itu dengan hati, andai saja saat itu Dropbox dibeli oleh Apple mungkin Drew tidak akan merasakan kesuksesan seperti sekarang ini sebagai pendiri Dropbox.


TAGS belajar jangan mudah menyerah DREW HOUSTON DropBox


-

Author

Follow Me